Selasa, 18 Desember 2012
NGELMU SEJATI CIREBON
A. Asal Usul Ajaran Ngelmu Sejati Cirebon
Ngelmu Sejati atau Ngelmu Hakekat adalah ajaran kebatinan/mistik yang tersebar luas di daerah Karesidenan Cirebon, terutama di Kabupaten Cirebon dan Indramayu. Orang-orang agama/santri menaminya ngelmu engkik atau ngelmu garingan, artinya ilmu kering, karena para pengikut ngelmu suka memberi gelar kepada orang-orang agama/santri sebagai itik atau angsa karena setiap hari selalu bermain air (wudhu atau mandi).
Ajaran ini tidak pernah memiliki organisasi. Sumber ajarannya adalah buku-buku catatan yang disebut primbon yang ditulis dengan tangan memakai bahasa Jawa Cirebon bercampur bahasa Kawi (Sansakreta) dengan huruf Arab atau Jawa. Buku Primbon tersebut pernah dicetak dalam 12 jilid dan ditulis dengan bahasa Indonesia huruf latin pada tahun 1920 oleh Tb. Haji Burhan. Setelah tercetak dan terjual habis buku tersebut tidak lagi diterbitkan.
B. Penyebaran Ngelmu Sejati Cirebon
Pada masa pra kemerdekaan, oleh para pemimpin Islam (wali) ajaran ini ditentang untuk disiarkan. Namun demikian, ajaran ini disebarkan secara diam-diam oleh Sultan Kanoman, Sultan Kasepuhan, Sultan Kecirebonan dan terutama dari pihak keturunan Sunan Gunung Jati. Pasca kemerdekaan Indonesia, ajaran ini disebarluaskan oleh Sultan Keprabon yang bernama Pangeran Aruman.
C. Ajaran Ngelmu Sejati Cirebon
Isi ajaran Ngelmu Sejati Cirebon tersusun dalam lima pokok, yaitu:
Sahadat Sejati
Ajaran dan kupasannya memakai bahasa Jawa Cirebon yang artinya kurang lebih sebagai berikut:
“Waktu Gusti Rasulullah, Nabi Muhammad saw. akan meninggal dunia membisikkan ke telinga kanan Sahabat Ali, demikian, “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah. Muhammad cahaya-Ku, Rasulullah rasa-Ku, ya Allah, ya Muhammad, ya Aku.””
Shalat Sejati
Shalat adalah hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Yang wajib ada lima, yaitu terletak pada mata, telinga, hidung, mulut dan kubul (kemaluan). Jadi, shalat sejati adalah shalat yang bisa menjaga lima hal tadi. Jika seseorang pandai menjaga yang lima tersebut maka hidupnya akan selamat sampai ke tempat yang dituju, yaitu Surga Sejati yang dirakit oleh Allah. Namun, jika ia tak pandai menjaganya, maka ia akan tersesat ke dalam surga penasaran, tempat jin, siluman, sileman dan berkasakan.
Shalat yang lima itu berpangkal pada shalat daim, alamatul hayat, waktu menarik nafas insan harus menyebut Allah dan waktu menghembuskannya insan harus menyebut Hu, demikian harus tetap (daim = kontinyu) tidak ada hentinya, sehingga insan tahu di mana letak Allah, Tuhan Sejati.
Martabat Tujuh
Ajaran Ngelmu Sejati, manusia terdiri dari empat unsur, yaitu bumi (tanah), air, api dan dingin, sehingga mewujudkan jasmaniah, yakni badan kasar. Dan yang dimaksud martabat tujuh di sini adalah tahapan lahir manusia yang terproyeksi ke dalam tujuh fase (martabat tujuh).
a. Alam Ahadiyat (alam azali abadi), adalah alam sebelum manusia lahir ke dunia.
b. Alam Wahdat, alam kesatuan dari dua jenis.
c. Alam Wahdaniyat, alam Maha Tunggal. Kesatuan tidak ada selain daripada wujud yang satu.
d. Alam Arwah, alam mulai ada tanda gerak hidup bayi kira-kira umur empat bulan dalam kandungan ibu.
e. Alam Mitsal, adalah merupakan bentuk yang lebih lunak.
f. Alam Ajsam, yaitu sudah berbentuk manusia lengkap dengan tulang dan daging, namun belum sempurna.
g. Alam Insan Kamil, bayi sudah dalam keadaan sempurna kira-kira umur sembilan bulan di dalam kandungan ibunya, kemudian lahirlah dengan keadaan sempurna.
Tribahwana
Tribahwana artinya tiga buana (dunia), yaitu tiga jagat alam besar. Dalam Primbon Ngelmu Sejati disebut demikian:
“Sebelum aku tajalli (lahir ke dunia) lebih dulu membentuk tiga mahligai, yaitu:
Baitul Makmur adanya di dalam kepala manusia. Di dalam kepala ada tempurung kepala, di dalamnya ada otak atau akal, di dalamnya ada pikiran, di dalamnya ada rasa, di dalamnya ada sir, di dalamnya ada Aku.
Baitul Muharam ada di dalam dada manusia, di dalamnya ada jantung, di dalamnya ada hati, di dalamnya ada rasa, di dalamnya ada sir, di dalamnya ada Aku.
Baitul Muqaddas ada di dalam kemaluan manusia, di dalamnya ada biji kemaluan, di dalamnya ada mani, di dalamnya ada meningkem, di dalamnya ada rasa, di dalamnya ada Aku.
Dengan terbentuknya Tribahwana dapat diketahui Trimurti, artinya tiga senyawa dan di sanalah insan mengetahui hakikat dari hidupnya sehingga ia menjadi manusia sejati.”
Mi’raj (Belajar Mati)
Manusia di dunia kalau kembali ke tempat asal azali abadi harus melalui sembilan pintu. Oleh karena itu, orang harus mengetahui tempat kembalinya, jika tidak maka dapat mati berkumpul dengan jin, markayangan, binatang, tumbuh-tumbuhan dan bisa juga mati masuk ke tempat batu-batu dan kayu-kayu atau gunung-gunung. Maka dari itu, dalam ajaran ini ada latihan untuk mengetahui tempat kemballi di kemudian hari sesudah mati. Latihan ini disebut Mi’raj atau Meradan.
Mula-mula masuk pintu I, akan bertemu dengan cahaya hitam, yakni wahaning nafsu lawwamah, seperti binatang. Tujuan hidupnya hanya kepada syahwat perut dan birahi. Jika tidak waspada akan kelorop (tertipu) masuk (inkarnasi) menjadi binatang ternak.
Pintu II akan bertemu cahaya merah, ialah wahaning nafsu amarah, yang ada di dalam jin berkasakan. Pengaruhnya yang menguasai pendengaran. Jika tidak waspada maka masuklah orang ke dalam alam jin.
Pintu III akan bertemu dengan cahaya hijau, ialah wahaning nafsu supiyah, rasanya dingin, banyak tampak ikan air dan binatang laut. Tajallinya penglihatan suka pada yang indah-indah, jika tidak awas orang akan terjerumus masuk ke dalam alam binatang air dan laut.
Pintu IV akan tampak cahaya kuning, adalah wahaning nafsu mutmainnah, rasanya tenang banyak burung berkicau, semua seolah-olah mengajak tinggal bersama. Kalau tidak waspada orang akan terjeumus masuk ke dalam alam burung.
Pintu V, setelah dilalui akan tampak bianglala berwarna tujuh macam melambaikan seolah-olah mengajak kita tinggal bersama. Jika tidak waspada maka akan tetap tinggal dalam alam tumbuh-tumbuhan.
Pintu VI akan tampak cahaya putih terang terdengar seolah-olah suara halus dan merdu mengajak tinggal bersama-sama. Jika tidak awas maka akan masuk alam malakut.
Pintu VII setelah dilalui akan terlihat cahay kuning keemas-emasan yang berasal dari suatu kelompok benda seperti rumah lebah, sedap serta nyaman dipandang. Itulah hakikat hati tempat berkumpul para ruh dan kalau berhenti maka tidak akan sampai ke tempat sejati yang kita cari.
Pintu VIII terbuka luas dan mudah dimasuki. Tampak cahaya terang benderang, rasa nikmat dan tenang yang tidak ada bandingannya. Inilah surga bagi mereka yang bernuat baik di dunia, tetapi bukan surga sejati yang dituju.
Pintu IX ialah pintu penghabisan. Jika manusia dapat masuk ke sini maka ia akan berjumpa dengan cahaya terang benderang yang tidak terbatas. Di sinilah surga sejati yang dirakit oleh Tuhan yang sejati. Tempat azali abadi tdak ada perbandingan dan persamaan, laisa kamitslihi syaiun.
D. Kesimpulan
Ngelmu Sejati Cirebon tampaknya adalah sebuah sinkretisme ajaran, yakni ajaran Islam sebagai mainstream dengan Hindu atau Budha. Nafas Hinduisme terasa kental sekali ketika berbicara mengenai perjalanan manusia setelah mati yang mendeskripsikan ajaran reinkarnasi dalam Hindu.
Referensi
Kamil Kertapraja, Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di Indonesia, Jakarta: Yayasan Masagung, 1985, hal. 90 – 95.
SUMBER : Mif19.tea's Blog
Minggu, 16 Desember 2012
PERGURUAN TERTUA DI JAWA
nama Perguruan Pencak Silat Padjadjaran yang didirikan pada tanggal 12 Desember 1928 di Desa Sukaraja Bogor, Pendirinya yaitu K.H Raden Ahmad Karta Kusumah ( Alm ) yang kemudian diteruskan oleh Tubagus Moh. Siddik Sakabrata ( Alm ).
Guru Besar yang telah Almarhum:
1. Raden K.H. Ahmad Karta Kusumah
2. Raden Iing Ganda Lesmana
3. Raden Subarta
4. Raden Moh Yusuf
5. Tubagus Moh. Siddik Sakabrata
Sebagai Perguruan Pencak Silat sejati, yang terdapat empat aspek didalamnya yaitu:
1. Seni Budaya
2. Beladiri
3. Olahraga, dan
4. Mental spiritual
Dalam hal budaya serta kesenian Pencak Silat yang diprakarsai oleh Bapak Ukay S. seni dan budaya yang menjadi pelengkap perguruan, hal tersebut tidak terlepas daripada tokoh-tokoh pencak silat terdahulu Abah H. Dulhalim ( Jasinga) dan Abah Ucha ( Rangkas, Banten ) sebagai sesepuh daripada seni dan budaya Pencak Silat di Perguruan.
Pada tahun 1979, murid-murid perguruan banyak yang turut serta dalam kancah pertandingan melalui IPSI, sampai meraih prestasi/juara Tingkat Nasional bahkan Tingkat Asia yang diprakarsai yang diantaranya atlit Perguruan Cabang Jakarta dan Atlit Cabang Bogor Barat ( Cigudeg ). Atas dasar prestasi-prestasi itulah yang akhirnya Perguruan Pencak Silat Padjadjaran menjadi Perguruan Pencak Silat Nasional Padjadjaran atau disebut juga PPSN Padjadjaran.
Setelah wafatnya Guru Besar pada tahun 1997, dan tidak diadakannya tokoh pengganti sebagai Guru Besar, serta selain mengkaji keorganisasian daripada hal lain yang bersangkutan dengan keluarga besar perguruan, Bpk Tb Ukay S, selaku sesepuh Padjadjaran, mengambil langkah dan inisiatif untuk kelanjutan perguruan khususnya di wilayah Bogor barat beralih nama , dengan kelengkapan nama yaitu Perguruan Pencak Silat Putra Padjadjaran.
Dengan penyempurnaan tersebut, Keluarga Besar Perguruan Pencak Silat Putra Padjadjaran terus dan terus berkiprah untuk perkembangan kekayaan seni kebudayaan asli Bangsa Indonesia.
Lambang Perguruan Pencak Silat Putra Padjadjaran Mewujudkan Pencerminan :
1. Selain daripada menyimbolkan tujuh janji setia, tujuh rantai adalah pencerminan Persatuan dan kesatuan.
2. Berani yang dicerminkan dengan warna merah.
3. Bersikap kesatria dalam penegakan keadilan dan kebenaran yang disimbolkan dengan gambar kepala harimau/macan.
4. Kesuburan yang disimbolkan dengan warna kuning.
5. Jujur yang disimbolkan dengan kembang buah manggis.
6. Segi lima melambangkan keimanan dalam beragama.
7. Suci yang disimbolkan dengan warna putih.
Yang Menciptakan gerak jurus adalah para Wali, yang di antaranya:
1. Pangeran Rangga Gading
2. Pangeran Papak ( Pangeran Sake )
3. Pangeran Surapati
4. Pangeran Gagak Lumayung
5. Pangeran Jaka Sembung
Perguruan Pencak Silat Padjadjaran adalah pewaris aliran seni budaya Pencak Silat yang berasal dari jawa Barat, yang diterkenal disebut dengan sebutan Jurus Lima ( Panca Dirya Pra Pencak Silat ).
1. Cimande
Artinya Cai Iman anu Hade, ( air yang suci ) yang didirikan oleh seorang ulama besar Bogor yang juga mendirikan pesantren Tari kolot yaitu eyang Khaerudin, aliran ini berasal dari Desa Dhuhur Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor.
2. Sera
Sera yang berarti Serah artinya pasrah yang berasal dari bahasa sunda, aliran Serah ini terdiri dari 5 bagian, yaitu:
1. Serah Pasek
2. Serah Rapet
3. Serah Gulung
4. Serah Ringsek
5. Serah Totok
3. Syahbandar
Aliran ini diambil dari nama seorang ulama besar yang bernama Syeh Bandar.
4. Cikalong.
Aliran ini menggunakan tenaga yang lembut, dan namanya diambil dari nama sebuah kampung Cikalong di Cianjur.
5. Depokan
Artinya permainan bawah.
FEBRY "PENDEKAR WANITA CIREBON"
“Ia tidak merasa masa mudanya terampas karena menekuni pencak silat. ”
Buk! Kaki jagoan silat itu melayang cepat. Sambil menahan nyeri, lawannya
menghindar. Entah kenapa tayangan adu jotos di layar kaca itu tak membuat
gadis kecil tersebut ngeri. Ia malah semakin terkesima oleh adu tendangan
tersebut. Itulah tendangan yang mengubah sejarah Febriyani Nurkhasanah,
gadis kecil tersebut. Sejak menonton tayangan laga pencak silat dalam SEA
Games 1993, Febri–panggilan Febriyani–kecil bersumpah ingin menjadi atlet
pencak silat. Ia melupakan cita-cita menjadi dokter atau polisi–cita-cita
yang biasa hinggap di otak anak kecil.
Sejarah pun berpihak kepadanya. Empat belas tahun kemudian, yakni sekarang
ini, Febri telah melambung menjadi atlet pencak silat untuk SEA Games 2007
di Thailand. Ia kini mengikuti pemusatan latihan nasional pencak silat untuk
SEA Games 2007 di Pusat Pendidikan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Tentara
Nasional Indonesia Angkatan Darat di Batu Jajar, Cimahi, Jawa Barat
Saat ditemui Tempo, Kamis lalu, di pemusatan latihan itu, Febri bercerita ia
adalah gadis pembelot. Sambil membanggakan seragam seragam loreng hijau
Kopassus yang ia kenakan, Febri menuturkan bahwa ayahnya, Kartidja, adalah
karateka yang sering tampil di aneka kejuaraan yang ditayangkan di televisi.
Ayahnya mewajibkan Febri berlatih karate. Awalnya gadis kecil itu menurut.
Namun, ia hanya bertahan dua kali latihan. Belakangan, gadis itu malas
belajar karate. Alasannya, ia benci dipaksa oleh pelatihnya melakukan split
(merentangkan dua kaki sampai lurus sejajar dengan lantai). Aku nggak tahan
dipaksa-paksa untuk bisa split. Padahal di silat pun nantinya ada ada
keharusan bahwa aku harus mampu melakukan split, ujarnya sembari tertawa.
Akhirnya, dengan sedikit adu argumentasi dengan ayahnya, Febri kembali
berlatih silat. Kebetulan di sekolah ada Perguruan Silat Padjadjaran
Nasional. Akhirnya, setelah naik ke kelas III sekolah dasar, Febri bergabung
dan mulai berlatih dengan serius.
Kejuaraan pada 1995 mengubah hidupnya. Febri saat itu mengikuti kejuaraan
untuk pertama kalinya di Kejuaraan Nasional Perguruan Padjadjaran di Bogor.
Ia turun di kelas C junior (42-45 kilogram) dan pulang membawa medali
perunggu.
Setelah kejuaraan itu, Febri makin rajin mencebur dalam berbagai kejuaraan.
Hasilnya? Ia tidak hanya mendapatkan medali, tapi juga deretan luka. Yang
penting adalah mendapat pengalaman, kata gadis ulet itu.
Jam terbang Febri yang makin tinggi mengantarnya ke pertandingan yang lebih
besar, yaitu Pekan Olahraga Daerah Jawa Barat pada 1998 sebagai wakil Kota
Cirebon.
Dalam kejuaraan itu, Febri berhasil merebut emas dan berhak berlaga di
tingkat nasional. Sejak itulah Febri mulai mendulang banyak medali.
Koleksi medali yang diraih Febri ternyata tidak otomatis membuatnya mendapat
dukungan orang tuanya. Ibu Febri, Siti Maemunah, berkeras memintanya hanya
berkonsentrasi pada sekolah. Gadis penyuka matematika itu menolak. Ia
menunjukkan bukti bahwa silat tak menyurutkan prestasi akademiknya. Febri
pun berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri di Bandung melalui jalur
atlet. Pilihannya pun tidak tanggung-tanggung: jurusan matematika. Orang
tuaku tidak menyangka aku bisa lulus ujian, kata Febri.
Pada 2002, Febri mengikuti kejuaraan nasional tingkat dewasa untuk pertama
kali dan sekali lagi berhasil meraih emas. Sejak saat itu, jam latihannya
terus bertambah sehingga waktu senggangnya semakin berkurang. Namun, sesuai
dengan janjinya kepada orang tua, anak tertua dari tiga bersaudara ini
menempatkan pendidikan sebagai prioritas.
Jadi, ya, pulang latihan, istirahat sebentar, lalu belajar. Hampir tidak ada
waktu untuk kumpul-kumpul dengan teman, ujar Febri. Kendati begitu, ia tidak
merasa masa mudanya terampas. Ini bukan sekadar impian, ini hidupku, gadis
berjilbab ini menegaskan.
Pertandingan, buat Febri, selalu memberi kenangan sendiri. Ia memberi contoh
ihwal kekalahannya melawan Haryanti, atlet silat dari Sumatera Selatan.
Haryanti tiga kali mengalahkan Febri, bahkan dua kali dalam event yang sama.
Tiga kali kalah oleh dia, aku sempat berpikir, ‘Apakah aku akan buat rekor
jadi empat kali kalah?’ Tapi ternyata aku bermain dengan tenang dan lepas.
Akhirnya 5-0 buatku, ujarnya berbinar-binar.
Di dunia internasional pun Febri mulai mendapatkan perhatian khusus. Pada
pertandingan internasionalnya yang pertama di United Kingdom Open 2006,
Febri mendapat emas. Selanjutnya, ia mendapat perak di University Games di
Hanoi, Vietnam, pada tahun yang sama. Terakhir ia sukses dalam Belgia
Terbuka 2007 dengan merebut emas di kelas C putri sekaligus menjadi pesilat
terbaik.
Namun, ia masih belum puas. Targetnya adalah emas di SEA Games Thailand dan
Pekan Olahraga Nasional XVIII bagi Jawa Barat. Ia telah bersumpah menempa
dirinya sekeras mungkin.
Saat ini Febri sedang digembleng di Pusat Kopassus di Batu Jajar. Ia menilai
latihan yang banyak melibatkan anggota Kopassus itu sangat menyenangkan
karena tidak sekadar menempa fisik dan teknik, tapi juga mental. Aku tidak
akan melupakan pelatnas ini karena ini adalah pelatnas pertamaku dan
ternyata sangat menyenangkan, katanya.
Meskipun jauh dari orang tua, Febri mengaku tidak pernah tertinggal berita
apa pun karena setiap hari ia pasti menelepon sang mama. Bahkan, ketika
masih di Jakarta, kalau memungkinkan ia menyempatkan pulang ke Cirebon. Tapi
yang tidak pernah lepas dari pelukannya adalah boneka harimau kecil yang
diberi nama Maung.
Maung itu keberuntunganku. Aku tidak pernah pergi ke mana pun tanpa Maung.
Rasanya ada yang hilang deh kalau Maung tidak ada di tempat tidurku,
katanya.
Oleh : MUSLIMA HAPSARI
Koran Tempo Minggu, 30 September 2007
Rabu, 15 Agustus 2012
KAOS RASA UDANG
CIREBON KOTA UDANG
Menurut Manuskrip Purwaka Caruban Nagari, pada abad 15 di pantai Laut Jawa ada sebuah desa nelayan kecil bernama Muara Jati. Pada waktu itu sudah banyak kapal asing yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat. Pengurus pelabuhan adalah Ki Gedeng Alang-Alang yang ditunjuk oleh penguasa Kerajaan Galuh (Pajajaran). Dan di pelabuhan ini juga terlihat aktivitas Islam semakin berkembang. Ki Gedeng Alang-Alang memindahkan tempat pemukiman ke tempat pemukiman baru di Lemahwungkuk, 5 km arah selatan mendekati kaki bukit menuju kerajaan Galuh. Sebagai kepala pemukiman baru diangkatlah Ki Gedeng Alang-Alang dengan gelar Kuwu Cerbon.
Pada Perkembangan selanjutnya, Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi ditunjuk sebagai Adipati Cirebon dengan Gelar Cakrabumi. Pangeran inilah yang mendirikan Kerajaan Cirebon, diawali dengan tidak mengirimkan upeti kepada Raja Galuh. Oleh karena itu Raja Galuh mengirimkan bala tentara ke Cirebon Untuk menundukkan Adipati Cirebon, namun ternyata Adipati Cirebon terlalu kuat bagi Raja Galuh sehingga ia keluar sebagai pemenang.
Dengan demikian berdirilah kerajaan baru di Cirebon dengan Raja bergelar Cakrabuana. Berdirinya kerajaan Cirebon menandai diawalinya Kerajaan Islam Cirebon dengan pelabuhan Muara Jati yang aktivitasnya berkembang sampai kawasan Asia Tenggara.[7]
kemudian pada tanggal 7 Januari 1681 Cirebon secara politik dan ekonomi berada dalam pengawasan pihak VOC, setelah penguasa Cirebon waktu itu menanda tangani perjanjian dengan VOC.[8]
Pada masa kolonial pemerintah Hindia Belanda, tahun 1906 Cirebon disahkan menjadi Gemeente Cheribon dengan luas 1.100 ha dan berpenduduk 20.000 jiwa (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Kemudian pada tahun 1942, Kota Cirebon diperluas menjadi 2.450 ha dan tahun 1957 status pemerintahannya menjadi Kotapraja dengan luas 3.300 ha, setelah ditetapkan menjadi Kotamadya tahun 1965 luas wilayahnya menjadi 3.600 ha.
Pada tanggal 15 April 2011, Kota Cirebon diguncang dengan bom bunuh diri. Lokasi pengeboman berada di masjid Mapolresta Cirebon. Pada peristiwa tersebut, pelaku bom bunuh diri tewas seketika, dan terdapat beberapa orang luka parah.[9]
Pemerintahan
Setelah berstatus Gemeente Cirebon pada tahun 1906, kota ini baru dipimpin oleh seorang Burgermeester (wali kota) pada tahun 1920 dengan wali kota pertamanya adalah J.H. Johan. Kemudian dilanjutkan oleh R.A. Scotman pada tahun 1925. Pada tahun 1926 Gemeente Cirebon ditingkatkan statusnya oleh pemerintah Hindia-Belanda menjadi stadgemeente, dengan otonomi yang lebih luas untuk mengatur pengembangan kotanya. Selanjutnya pada tahun 1928 dipilih J.M. van Oostrom Soede sebagai wali kota berikutnya.
Pada masa pendudukan tentara Jepang ditunjuk Asikin Nataatmaja sebagai Shitjo (wali kota) yang memerintah antara tahun 1942-1943. Kemudian dilanjutkan oleh Muhiran Suria sampai tahun 1949, sebelum digantikan oleh Prinata Kusuma.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, pemerintah Kota Cirebon berusaha mengubah citra Kota Cirebon yang telah terbentuk pada masa kolonial Belanda dengan simbol dan identitas kota yang baru, berbeda dari sebelumnya. di mana kota ini dikenal dengan semboyannya per aspera ad astra (dari duri onak dan lumpur menuju bintang), kemudian diganti dengan motto yang digunakan saat ini. Pada tahun 2010 berdasarkan survei persepsi kota-kota di seluruh Indonesia oleh Transparency International Indonesia (TII), kota ini termasuk kota terkorup di Indonesia bersama dengan Kota Pekanbaru, hal ini dilihat dari Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK-Indonesia) 2010 yang merupakan pengukuran tingkat korupsi pemerintah daerah di Indonesia, kota ini sama-sama mendapat nilai IPK sebesar 3.61, dengan rentang indeks 0 sampai 10, 0 berarti dipersepsikan sangat korup, sedangkan 10 sangat bersih. Total responden yang diwawancarai dalam survei yang dilakukan antara Mei dan Oktober 2010 adalah 9237 responden, yang terdiri dari para pelaku bisnis.[10][11]
Wilayah administrasi Pemerintah Kota Cirebon berluas 37,358 km2, pada tahun 2008 terdiri dari 5 wilayah kecamatan, 22 kelurahan, 247 Rukun Warga (RW), dan 1.352 Rukun Tetangga (RT). Harjamukti merupakan kecamatan terluas (47%), kemudian berturut-turut Kesambi (22%), Lemahwungkuk (17%), Kejaksan (10%) dan Pekalipan (4%).
Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bekerja di Pemerintahan Kota Cirebon mencapai 6.982 orang, dengan komposisi pegawai laki-laki sebanyak 3.532 orang dan pegawai perempuan sebanya 3.450 orang. Tingkat pendidikan PNS di Pemerintahan Kota Cirebon yang terbanyak adalah lulusan S1 dan SLTA, lulusan S1 mencapai 32,34 persen, sedangkan lulusan SLTA mencapai 28,12 persen. Sementara itu lulusan D3 mencapai 22,23 persen, SLTP sekitar 7,69 persen, D1/D3 sekitar 26,37 persen, dan S2 sekitar 1,85 persen, dan masih ada lulusan SD yang bekerja yaitu mencapai 3,64 persen.
Sementara itu, anggota DPRD Kota Cirebon pada tahun 2008 sebanyak 30 orang, yang terdiri 28 laki-laki dan 2 perempuan, dengan mayoritas tingkat pendidikan anggota DPRD adalah lulusan SLTA sebesar 13 orang, kemudian terbanyak kedua lulusan S1 sebesar 10 orang, dan lulusan S2 sebanyak 7 orang. Anggota DPRD tersebut terbagi kedalam 6 fraksi, Anggota fraksi terbanyak adalah Fraksi PDIP dan Fraksi Golkar, yang masing-masing sebesar 26,7 persen , sedangkan untuk fraksi lainnya, seperti Fraksi PAN mencapai 13,3
Minggu, 29 Juli 2012
" CECEK MANGAN CAGAK " Pepatah Jawa yang Penuh Makna
Pepatah Jawa yang Penuh Makna
Untuk menyatakan suatu keinginan yang tidak seimbang dengan kekuatan.
orang jawa bilang
“Cecak nguntal cagak”
Jumat, 27 Juli 2012
ADAG UDUG
ni pepatah Jawa, dapat diterjemahkan sebagai menyombongkan kecantikan wajah ataupun keelokan tubuh, menyombongkan besarnya tubuh ataupun garis keturunan, menyombongkan ilmu ataupun pengetahuan, dan menyombongkan kemahirannya ber bicara ataupun kemerduan suaranya.
Pepatah ini digunakan untuk menasihati orang agar hendaknya jangan menyombongkan apa pun yang dimilikinya.
Orang yang merasa diri mempunyai suatu kelebihan, kadang memang menjadi lupa bahwa semua itu hanyalah titipan Tuhan.
Orang yang merasa diri rupawan, cenderung menganggap orang lain tidak seelok dirinya. Orang yang merasa dirinya besar dan kuat cenderung menganggap orang lain lemah.
Orang yang merasa dirinya keturunan orang hebat cenderung menganggap orang lain adalah keturunan orang rendahan alias tidak punya kelas sosial.
Orang yang menganggap dirinya pintar cenderung menganggap orang lain tidak tahu apa-apa. Orang yang merasa dirinya pandai bicara cenderung mempengaruhi orang lain dengan omongannya.
Bangsa Indonesia, termasuk juga orang Jawa, dikenal memiliki perasaan halus, serta tenggang rasa tinggi. Karena itulah mereka tidak menyukai orang sombong. Yaitu, orang yang congkak, pongah, angkuh, takabur, menghargai diri sendiri berlebihan dan cenderung meremehkan (merendahkan) orang lain. Di Jawa, sombong dianggap sifat yang buruk (tak terpuji), dan sebaiknya dihindari karena akan jadi gangguan serius bagi komunitas dan lingkungannya
Menurut pandangan masyarakat Jawa, orang sombong memiliki sifat sebagaimana unen-unen (peribahasa) yang berbunyi: ‘adigang adigung adiguna’. Artinya, sifat menyombongkan diri pada kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian yang dimiliki.
Rabu, 25 Juli 2012
Motif batik Megamendung merupakan karya seni batik yang identik dan bahkan menjadi ikon batik daerah Cirebon dan daerah Indonesia lainnya. Motif batik ini mempunyai kekhasan yang tidak ditemui di daerah penghasil batik lain. Bahkan karena hanya ada di Cirebon dan merupakan masterpiece, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI akan mendaftarkan motif megamendung ke UNESCO untuk mendapatkan pengakuan sebagai salah satu world heritage.'
Motif megamendung sebagai motif dasar batik sudah dikenal luas sampai ke manca negara. Sebagai bukti ketenarannya, motif megamendung pernah dijadikan cover sebuah buku batik terbitan luar negeri yang berjudul Batik Design, karya seorang berkebangsaan Belanda bernama Pepin van Roojen. Kekhasan motif megamendung tidak saja pada motifnya yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas, tetapi juga nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalam motifnya. Hal ini berkaitan erat dengan sejarah lahirnya batik secara keseluruhan di Cirebon. H. Komarudin Kudiya S.IP, M.Ds, Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) menyatakan bahwa:
| “ | Motif megamendung merupakan wujud karya yang sangat luhur dan penuh makna, sehingga penggunaan motif megamendung sebaiknya dijaga dengan baik dan ditempatkan sebagaimana mestinya. Pernyataan ini tidak bermaksud membatasi bagaimana motif megamendung diproduksi, tapi lebih kepada ketidaksetujuan penggunaan motif megamendung untuk barang-barang yang sebenarnya kurang pantas, seperti misalnya pelapis sandal di hotel-hotel. | ” |
Langganan:
Postingan (Atom)






